• Model Pembelajaran Matematika Terpadu

    Diajukan Sebagai Salah Satu Tugas Terstruktur Pada Mata Kuliah
    Strategi Belajar Mengajar “Matematika”
    Dosen : Dra. Wati Susilawati Mpd.

    Oleh :
    Nurstania Farhatun Nisa
    206 200 681
    TADRIS MATEMATIKA
    FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
    UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
    SUNAN GUNUNG DJATI
    BANDUNG
    2008



    BAB I
    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah
    Pendidikan merupakan upaya sadar yang dilakukan agar peserta didik atau siswa dapat mencapai tujuan tertentu. Agar siswa dapat mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan maka diperlukan wahana yang dapat digambarkan sebagai kendaraan (Soedjadi, 1999: 6). Dalam hal ini pembelajaran matematika bisa menjadi salah satu kendaraan yang dapat mewujudkan tujuan pendidikan yang dimaksud. Matematika tidak hanya dapat digunakan untuk mencapai tujuan, tetapi dapat pula untuk membentuk kepribadian siswa serta mengembangkan keterampilan tertentu. Keterampilan yang dapat mengasah pola fikir sehingga seseorang dapat mengaplikasikan keterampilan yang dimilikinya untuk menyelesaikan segala permasalahan dalam kehidupannya.
    Penguasaan matematika sangat penting untuk mencapai keberhasilan pembangunan dalam segala bidang pendidikan. Pernyataan tersebut berlandaskan pada asumsi bahwa penguasaan matematika akan menjadi salah satu saran untuk mempelajari mata pelajaran lain, baik pada jenjang pendidikan yang dasar maupun jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Beberapa hasil penelitian menunjukan bahwa, prestasi belajar dalam mata pelajaran matematika berkorelasi positif dengan prestasi belajar dalam pelajaran lain, baik dalam mata pelajaran exstra maupun non-ekstra.
    Dalam hal ini model pembelajaran matematika sangat berperan dalam proses belajar siswa, diantaranya model pembelajaran matematika terpadu. Siswa tidak hanya fokus pada mata pelajaran matematika saja disaat proses pembelajaran itu berlangsung, tetapi disini siswa harus mampu menghubungkan materi matematika yang dipelajarinya dengan materi matematika yang sudah dipelajari, atau materi dalam bidang matematika dengan materi bidang lain. Sehingga, siswa mempunyai wawasan luas dan mampu memecahkan masalah di berbagai bidang atau dalam kehidupan sehari-hari.
    Seperti yang dikemukakan Reseffendi (Kusmayanti 2003:2), “salah satu tujuan kurikulum pembelajaran matematika sekolah menengah pertama adalah siswa memiliki keterampilan menyelesaikan soal-soal matematika, baik yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, mata pelajaran lain, maupun matematika sendiri.” Dengan menguasai metematika secara seksama diharapkan siswa mampu bersikap ilmiah dalam menganalisis konsep-konsep matematika yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.
    Sampai saat ini pembelajaran matematika belum menunjukan hasil yang maksimal. Dari tahun ke tahun, prestasi matematika siswa di berbagai tingkatan sekolah belum bisa dikatakan meningkat secara signifikan.
    Sudah bukan hal baru, jika banyak siswa yang mengatakan matematika sulit. Sehingga membuat siswa kurang tertarik terhadap pembelajaran yang sedang berjalan, cepet bosan hingga ahirnya siswa kurang memahami konsep matematika. Juga bukan hal yang baru, bahwa pendidikan matematika di Indonesia cukup memprihatinkan. Hal ini terlihat dari beberapa indikasi, diantaranya yaitu ; rendahnya prestasi belajar metematika siswa mulai dari tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah bahkan perguruan tinggi. Selain rendahnya prestasi matematika, indikasi lain yaitu banyaknya siswa yang takut, tidak suka, dan kurang tertarik untuk belajar matematika yang membuat siswa menjadi bosan dalm mempelajarinya.
    Ruseffendi (1991 : 156) mengemukakan bahwa terdapat banyak anak yang setelah belajar matematika, bagian sederhana pun banyak yang tidak dipahami, banyak konsep yang dipahami secara keliru. Matematika dianggap sebagai ilmu yang sukar, rumit, dan banyak memperdayakan.
    Berkenaan dengan hal ini, guru sebagai penanggung jawab kegiatan belajar mengajar harus dapat memilih strategi belajar mengajar yang dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan memotivasi siswa dalam belajar. Seperti yang dikemukakan oleh M.Sobry Sutikno, bahwa pembelajaran efektif terjadi jika dengan pembelajaran tersebut siswa menjadi senang dan mudah memahami apa yang dipelajarinya.
    Saat berlangsungnya proses belajar mengajar dalam kelas atau sekolah, guru sudah tidak dapat lagi dipandang sebagai penguasa tunggal, yang membuat siswa menjadi pasif, tetapi guru dianggap sebagai manager of learning (pengelola kelas) yang perlu senantiasa siap membimbing dan membantu para siswa dalam menempuh perjalanan menuju kedewasaan mereka sendiri dalam proses belajar yang utuh dan menyeluruh. Jadi, peserta didik atau siswa bersifat aktif dalam proses pembelajaran, sedangkan guru bersifat pasif, hanya sebagai fasilitator saja. Tapi tidak dengan menghilangkan tugas dan tujuannya sebagai pendidik.
    Dalam belajar yang terpenting adalah proses, bukan hasil yang diperolehnya. Artinya, belajar harus diperoleh dengan usaha sendiri, adapun orang lain itu hanya sebagai perantara atau penunjang dalam kegiatan belajar agar belajar itu dapat berhasil dengan baik.
    Pengembangan konsep dalam proses pembelajaran berlangsung, materi-materi matematika seharusnya tidak dibatasi oleh topik yang sedang dibahas saja, tetapi siswa harus mampu menghubungkan dengan topik-topik yang relevan, bahkan dengan bidang studi lain jika memungkinkan secara terpadu. Pembelajaran matematika yang terpadu memfokuskan pada pendekatan pembelajaran antar topik bahkan jika memungkinkan antar disiplin. Konsep pembelajaran matematika terpadu mempertimbangkan siswa sebagai pembelajar dan proses yang melibatkan pengembangan berfikir dan belajar.

    B. Rumusan Masalah
    Berdasrkan kepada latar belakang masalah yang telah diuraikan sebelumnya, maka permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini dirumuskan sebagai :
    1.Bagaimana proses belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran matematika terpadu?
    2.Bagaimana mengembangkan strategi pembelajaran matematika terpadu kepada siswa?
    3.Apakah prestasi belajar matematika siswa dapat meningkat melalui implementasi model pembelajaran matematika terpadu?
    4.Apa kendalanya dalam proses belajar siswa dengan menggunakan model pembelajarn matematika terpadu?

    C. Kerangka Pemikiran
    “Kita belajar berdasarkan 10% dari apa yang kita baca, 20% dari apa yang kita dengar, 30% dari apa yang kita lihat, 50% dari apa yang kita lihat dan dengar, 70% dari apa yang kita katakan, dan 90% dari apa yang kita katakan dan lakukan.” (Vernon A.Magnesen)
    Dalam kenyataan yang terjadi di sekolah, masih banyak siswa yang hanya mendengarkan saja materi yang disampaikan oleh guru disaat pembelajaran berlangsung, tanpa mambaca, menyimpulkan dan mencoba memecahkan masalah dalam materi yang tidak dimengerti. Sehingga, siswa hanya mengetahui tanpa ada kemauan untuh lebih memahami materi yang telah disampaikan oleh guru.
    Guru tidak hanya sebagai penceramah saja yang menjadi penguasa tunggal dalam proses pembelajaran berlangsung, lebih aktif dibandingkan dengan siswa. Sehingga siswa hanya mendengarkan tanpa mampu berfikir logis, kritis, dan sistematis, dalam memecahkan masalah.
    Untuk berlangsungnya proses pembelajaran yang lebih melibatkan siswa, maka guru harus bisa memilih strategi pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran yang tepat. Sehingga menciptakan suasana yang menyenangkan bagi siswa dalam proses pembelajaran di kelas dan meningkatkan pola fikir siswa dalam memecahkan masalah, terutama dalam proses belajar matematika. Karena,dalam belajar matematika itu tidak hanya cukup mendengarkan dan membaca saja, tetapi dalam belajar matematika siswa harus mampu memahami materi yang sedang disampaikan, mampu memahami hubungan antara bagian-bagian matematika, mampu menganalisis dan menarik kesimpulan, serta memiliki sikap dan kebiasaan berfikir logis, kritis dan sistematis, bekerja cermat, tekun dan bertanggung jawab.
    Pembelajaran matematika akan berlangsung dengan baik apabila menggunakan model pembelajaran yang tepat. Sedangkan pembelajaran sekolah pada umumnya masih terfokus pada guru, diantaranya pembelajaran konvensional, yaitu berdiri di depan kelas, sedangkan siswa duduk rapi di tempat masing-masing. Pembelajaran seperti ini sering terjadi di pedesaan-pedesaan yang kekurangan fasilitas. (Syaeful Bahri dan Aswan Zain, 2002 : 109).
    Sedangkan model pembelajaran yang lebih mengaktifkan siswa dan lebih mengutamakan proses berfikir siswa, salah satu contohnya adalah model pembelajaran matematika terpadu.
    Pembelajaran matematika terpadu adalah pembelajaran matematika yang tidak hanya digunakan pada bidang matematika saja, melainkan ilmu matematika dapat dihubungkan dan digunakan juga pada bidang-bidang lain, seperti halnya pada bidang Biologi, Fisika, Kimia, Ekonomi, dsb.
    Model pembelajaran ini mampu meningkatkan wawasan siswa yang tidak hanya fokus belajar materi matematika saja, tetapi mampu menghubungkan materi matematika dengan materi bidang lain, jika memungkinkan terpadu. Sehingga siswa mampu berfikir matematis, berfikir luas, mampu memecahkan berbagai masalah yang lebih kreatif dan inovatif dalam mencari solusi pemecahan masalah yang dihadapinya.

    D. Batasan Masalah
    Untuk menghindari meluasnya permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini, maka masalah penelitian ini dibatasi sebagai berikut :
    1.Pokok bahasan yang dipilih dalam penelitian adalah bangun ruang, sub pokok bahasan luas, volume dan perubahan volume tabung.
    2.Subjek penelitian adalah siswa kelas VIII- MTs Negeri Sagaranten, Sukabumi tahun ajaran 2007/2008.
    3.Prestasi yang akan ditingkatkan adalah kemampuan berfikir logis, kritis dan sistematis, mampu memecahkan masalah dan mampu memahami hubungan antara materi matematika yang satu dengan materi matematika yang lainnya, serta materi bidang matematika dengan bidang yang lain.

    E. Tujuan Penelitian
    Tujuan yang ingin dicapai melalui penelitian ini adalah :
    1.Mengetahui proses belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran matematika terpadu.
    2.Mengetahui perkembangan strategi pembelajaran matematika terpadu kepada siswa.
    3.Mengetahui prestasi belajar matematika siswa melalui model pembelajaran matematika terpadu
    4.Mengetahui kendalanya dalam proses belajar siswa dengan menggunakan model pembelajarn matematika terpadu.

    F. Manfaat Penelitian
    Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat atau kontribusi nyata bagi kalangan-kalangan berikut :
    1.Bagi guru mata pelajaran matematika, model pembelajaran matematika terpadu dapat dijadikan sebagai model pembelajaran alternatif dalam meningkatkan wawasan luas dan prestasi belajar matematika dengan proses yang melibatkan pengembangan berfikir dan belajar.
    2.Bagi siswa, model pembelajaran matematika terpadu dapat memberikan pengaruh yang positif dalam meningkatkan berfikir siswa yang seharusnya materi-materi yang dipelajarinya tidak dibatasi oleh topik yang sedang dibahas saja, tetapi siswa harus mampu menghubungkan dengan topik-topik yang relevan, bahkan dengan bidang studi lain jika memungkinkan secara terpadu. Sehingga siswa berwawasan luas dan meningkatkan prestasi belajar matematika.
    3.Bagi pemerhati pendidikan, penelitian ini mampu menambah wawasan mengenai inovasi dalam pengembangan model pembelajaran matematika.

    G. Definisi Operasional
    Berikut ini disajikan definisi operasional guna menjelaskan istilah yang terdapat dalam judul penelitian.
    Model Pembelajaran Matematika Terpadu
    Model pembelajaran matematika terpadu adalah salah satu model pembelajaran yang dalam pembelajarannya siswa mampu menghubungkan antara materi matematika yang satu dengan materi matematika yang lainnya, serta materi matematika dengan bidang yang lain, sehingga siswa mempunyai wawasan luas dan mampu memecahkan masalah.
    Pembelajaran matematika terpadu memfokuskan pada pendekatan pembelajaran antar topik, bahkan jika memungkinkan antar disiplin. Konsep matematika terpadu mempertimbangkan siswa sebagai pembelajar (peserta didik) dan proses yang melibatkan pengembangan berfikir dan belajar.
    Pembelajaran matematika diharapkan berakhir dengan sebuah pemahaman siswa yang tidak sekedar memenuhi tuntutan tujuan pembelajaran matematika secara substantif saja, namun diharapkan pula muncul efek iringan, diantaranya :
    a.Lebih memahami keterkaitan antara satu topik matematika dengan topik matematika yang lainnya.
    b.Lebih menyadari akan pentingnya matematika bagi bidang lain.
    c.Lebih memahami peranan matematika dalam kehidupan manusia
    d.Lebih mampu berfikir logis, kritis, dan sistematis.
    e.Lebih kreatif dan iovatif dalam mencari solusi pemecahan masalah.
    f.Lebih peduli pada lingkungan sekitarnya.


    BAB II
    LANDASAN TEORITIS
    Model pembelajaran yaitu suatu rencana atau pola pendekatan yang digunakan untuk mendesain proses pembelajaran.
    Selama ini guru-guru dan peneliti bekerja sama dalam mengembangkan berbagai model dan strategi pembelajaran. Banyak model pembelajaran yang telah dikembangkan berdasarkan hasil penelitian dan percobaan atas praktek-praktek pembelajaran secara luas. Sehingga banyak model pembelajaraan yang diperkenalkan pada saat ini yang didasarkan atas tiga hal, pertama atas pengalaman observasi, kedua atas tela'ah teori-teori tertentu, dan ketiga atas hasil-hasil penelitian.
    Banyaknya model pembelajaran matematika dimaksudkan untuk lebih memberi kesempatan kepada para siswa untuk aktif belajar dan berfikir, sehingga tidak hanya fokus pada materi yang sedang dipelajari saja. Tetapi siswa juga harus mampu untuk menghubungkan materi yang sedang dipelajari dengan materi yang sudah dipelajari. Dan jika memungkinkan, siswa harus mampu menghubungkan ilmu matematika dengan bidang yang lainnya. Sehingga siswa mampu berfikir logis, kritis, dan sistematis, dalam memecahkan masalah dan juga mempunyai ilmu yang berwawasan luas. Salah satu contoh pembelajaran yang menjadikan siswa mampu menghubungkan dalam memecahkan masalah antara materi yang satu dengan materi yang lainnya, yaitu model pembelajaran matematika terpadu.
    1.Proses Belajar Siswa Dengan Menggunakan Model Pembelajaran Matematika Terpadu
    Matematika adalah disiplin ilmu yang tentang tata cara berfikir dan mengolah logika, baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif. Pada matematika diletakkan dasar bagaimana mengembangkan cara berfikir dan bertindak melalui aturan, yang disebut dalil (dapat dibuktikan) dan aksioma (tanpa pembuktian). Selanjutnya dasar tersebut digunakan oleh studi atau ilmu lain.
    Untuk mempromosikan pandangan bahwa kita seharusnya memandang matematika secara fleksibel dan memahami hubungan serta keterkaitan antara ide atau gagasan-gagasan matematika yang satu dengan matematika yang lainnya, maka NCTM (National Council Of Teachers Of Mathematich) merekomendasiakan 4 prinsip, yaitu :
    1.Matematika sebagai pemecahan masalah.
    2.Matematika sebagai penalaran.
    3.Matematika sebagai komunikasi.
    4.Matematika sebagai hubungan.
    Selain empat rekomendasi tersebut, NCTM (1989) menambahkannya dengan estimasi dan struktur matematika yang membantu dalam menggeneralisasikan matematika secara komprehensif dan holistik.
    Pembelajaran matematika terpadu memfokuskan pada pendekatan pembelajaran antar topik, bahkan jika memungkinkan antar disiplin. Konsep matematika terpadu mempertimbangkan siswa sebagai pembelajar (peserta didik) dan proses yang melibatkan pengembangan berfikir dan belajar.
    Pembelajaran matematika diharapkan berakhir dengan sebuah pemahaman siswa yang tidak sekedar memenuhi tuntutan tujuan pembelajaran matematika secara substantif saja, namun diharapkan pula muncul efek iringan, diantaranya :
    a.Lebih memahami keterkaitan antara satu topik matematika dengan topik matematika yang lainnya.
    b.Lebih menyadari akan pentingnya matematika bagi bidang lain.
    c.Lebih memahami peranan matematika dalam kehidupan manusia
    d.Lebih mampu berfikir logis, kritis, dan sistematis.
    e.Lebih kreatif dan iovatif dalam mencari solusi pemecahan masalah.
    f.Lebih peduli pada lingkungan sekitarnya.
    Proses belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran matematika terpadu, diantaranya :
    a.Dalam kegiatan pembelajaran matematika, siswa diharapkan tidak hanya sekedar learning to know, melainkan harus ditingkatkan menjadi learning to do, learning to be, hingga learning to live together.
    b.Siswa diharapkan mampu mengingat kembali materi yang sudah dipelajari untuk menghubungkan dengan materi yang sedang dipelajari, dan jika memungkinkan siswa mampu menghubungkan ilmu metematika dengan ilmu bidang lain.
    c.Siswa mampu memecahkan masalah dalam menghadapi atau mengisi soal-soal latihan sehingga berfikir logis, kreatif dan sistematis, dan juga berwawasan luas.
    d.Siswa lebih aktif dalam proses pembelajaran berlangsung, sehingga mengasah fikiran untuk lebih mampu memecahkan masalah yang dihadapinya.

    2.Mengembangkan Strategi Pembelajaran Matematika Terpadu Kepada Siswa
    Pada dasarnya, pembelajaran adalah proses menjadikan orang lain paham dan mampu menyebarluaskan apa yang dipahaminya tersebut.
    Sebuah strategi pembelajaran, apapun materi atau bidangnya, harus menekankan pada tiga aspek penting, yaitu :
    a.Aspek kemampuan khusus
    Aspek kemampuan khusus menekankan pada kemampuan siswa dalam memahami dan menguasai secara mendalam dan rinci tentang ide atau gagasan materi ajar.
    b.Aspek wawasan dan kemampuan umum
    Aspek wawasan dan kemampuan umum lebih menitikberatkan pada bagaimana siswa memahami keterkaitan antara materi yang sedang dipelajari dengan materi yang sudah dipelajari, dan keterkaitan antara materi matematika dengan bidang lain.
    c.Aspek kemampuan berkomunikasi
    Aspek kemampuan berkomunikasi menekankan pada kemahiran siswa dalam mengungkapkan ide-ide atau gagasan-gagasan yang telah mereka pelajari baik secara lisan maupun tulisan.
    Dalam pembelajaran matematika, seorang guru seharusnya tidak menyekat secara ekstrim pelajaran matematika sebagai penyajian materi-materi matematika belaka. Topik-topik dalam matematika sebaiknya tidak disajikan sebagai materi secara persial, tetapi harus diintegralisasikan antara satu topik dengan topik lainnya, bahkan dengan bidang lain.
    Matematika memegang peranan penting dalam membantu menjelaskan fenomena-fenomena diantaranya dalam ketiga bidang IPA (Fisika, Kimia, Biologi). Matematika meletakkan dasar :
    a.Proses bernalar dalam memahami pengertian
    b.Melihat pola dan keteraturan
    c.Menghayati suatu tata kerja yang konsisten
    d.Memegang prinsip cepat, tepat, dan cermat
    e.Berfikir dan bertindak logi, kritis dan sistematis

    3.Prestasi Belajar Matematika Siswa Dapat Meningkat Melalui Implementasi Model Pembelajaran Matematika Terpadu
    Prestasi belajar merupakan kecakapan nyata siswa yang diperoleh melalui serangkaian kegiatan pembelajaran dengan materi dan kriteria penilaian tertentu sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Penilaian dalam prestasi belajar siswa dapat dilihat dari segi kemampuan kognitif dan efektif.
    Melalui model pembelajaran matematika terpadu, prestasi belajar matematika pada siswa dapat meningkat dengan cara :
    a.Belajar dengan giat dan mempelajari kembali materi yang telah dipelajari di kelas.
    b.Memahami dan menguasai secara mendalam dan rinci tentang ide atau gagasan materi ajar.
    c.Memahami keterkaitan antara materi yang sedang dipelajari dengan materi yang sudah dipelajari, dan keterkaitan antara materi matematika dengan bidang lain.
    d.Mengungkapkan ide-ide atau gagasan-gagasan yang telah dipelajari baik secara lisan maupun tulisan.
    e.Memecahkan masalah dalam latihan-latihan soal dengan berfikir logis, kritis dan sistematis serta berwawasan luas.

    4.Kendala Dalam Proses Belajar Siswa Dengan Menggunakan Model Pembelajarn Matematika Terpadu
    Model pembelajaran matematika terpadu, yang digunakan dalam proses belajar siswa mempunyai kendala sebagai berikut :
    a.Siswa tidak giat belajar di rumah dalam mempelajari kembali materi yang telah dipelajari atau materi yang akan dipelajari nanti di kelas.
    b.Siswa tidak menguasai materi yang telah dipelajari sebelumnya, baik dalam bidang matematika sendiri maupun dalam bidang lain, sehingga tidak mampu menghubungkan antara materi yang sedang dipelajari dengan meteri yang telah dipelajari, bahkan tidak mampu menghubungkan materi matematika dengan bidang lain.
    c.Siswa tidak mau belajar dan mencoba memecahkan masalah pada latihan-latihan soal.


    BAB III
    PENUTUP
    A. Kesimpulan
    Pembelajaran matematika terpadu memfokuskan pada pendekatan pembelajaran antar topik, bahkan jika memungkinkan antar disiplin. Konsep matematika terpadu mempertimbangkan siswa sebagai pembelajar (peserta didik) dan proses yang melibatkan pengembangan berfikir dan belajar.
    Pembelajaran matematika diharapkan berakhir dengan sebuah pemahaman siswa dan muncul efek iringan, diantaranya :
    a.Lebih memahami keterkaitan antara satu topik matematika dengan topik matematika yang lainnya.
    b.Lebih menyadari akan pentingnya matematika bagi bidang lain.
    c.Lebih memahami peranan matematika dalam kehidupan manusia
    d.Lebih mampu berfikir logis, kritis, dan sistematis.
    e.Lebih kreatif dan iovatif dalam mencari solusi pemecahan masalah.
    f.Lebih peduli pada lingkungan sekitarnya
    Dalam proses pembelajaran matemata dengan menggunakan model pembelajaran matematika, Siswa diharapkan mampu mengingat kembali materi yang sudah dipelajari untuk menghubungkan dengan materi yang sedang dipelajari, dan jika memungkinkan siswa mampu menghubungkan ilmu metematika dengan ilmu bidang lain.
    Dengan menggunakan model pembelajaran matematika terpadu, prestasi belajar matematika siswa dapat maningkat dengan cara ; Belajar dengan giat, memahami dan menguasai materi, memahami keterkaitan antara materi yang satu dengan materi yang lainnya, mengungkapkan ide-ide atau gagasan-gagasan, dan belajar memecahkan masalah dalam latihan-latihan soal.
    Model pembelajaran matematika terpadu, yang digunakan dalam proses belajar siswa mempunyai kendala, diantaranya ; siswa tidak giat belajar, tidak menguasai materi, dan tidak mau belajar mencoba memecahkan masalah pada latihan-latihan soal.
    B. Saran
    Dalam proses pembelajaran matematika harus bisa memilih model pembelajaran yang baik, sehingga mampu meningkatkan prestasi belajar siswa khususnya dalam pelajaran matematika, salah satu model pembelajaran yang baik yaitu model pembelajaran matematika terpadu.
    Strategi belajar mengajar dinilai akan lebih baik jika menggunkan model pembelajaran matematika terpadu, supaya siswa lebih giat belajar, berfikir logis, kritis, dan sistematis dalam memecahkan masalah. Sehingga mampu menghubungkan antara materi yang telah dipelajari sebelumnya dengan materi yang sedang dipelajari, bahkan materi matematika dengan bidang lain, dan mempunyai ilmu yang berwawasan luas.
    Agar model pembelajaran matematika terpadu dapat dilaksanakan dengan baik dalam proses pembelajaran, maka guru harus lebih mengetahui dan mengerti hal-hal yang berkaitan dengan model pembelajaran matematika terpadu.
    Bagi guru yang mau menggunakan model pembelajaran matematika terpadu dalam proses pembelajarannya, maka intinya guru diharuskan mempunyai wawasan luas, untuk menghubungkan materi yang satu dengan materi yang lainnya, bahkan materi matematika dengan bidang lain


    DAFTAR PUSTAKA
    Intan Sari, Suci. (2007). “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered-Head-Together (Nht) Dalam Upaya Meningkatkan Motivasi Dan Prestasi Belajar Matematika Siswa”, Bandung: Skripsi Jurusan Pendidikan Matematika FPMIPA UPI
    Fahurrohman, prof.Pupuh & M.Sobry Sutikno,Mpd. (2007). “Strategi Belajar Mengajar Melalui Penanaman Konsep Umum Dan Konsep Islam”, Bandung : Refika Aditama
    Suheendar, Cecep. Badudin & M. Kamaludin. (2005). “ Matematika Untuk Siswa SMP/MTs Kelas VIII Semester II”, Jakarta : Intimedia

0 komentar:

Poskan Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini